Sometimes You Can’t Make It On Your Own

Tough, you think you’ve got the stuff
You’re telling me and anyone
You’re hard enough

You don’t have to put up a fight
You don’t have to always be right
Let me take some of the punches
For you tonight

Listen to me now
I need to let you know
You don’t have to go in alone

And it’s you when I look in the mirror
And it’s you when I don’t pick up the phone
Sometimes you can’t make it on your own

We fight all the time
You and I… that’s alright
We’re the same soul
I don’t need… I don’t need to hear you say
That if we weren’t so alike
You’d like me a whole lot more

Listen to me now
I need to let you know
You don’t have to go it alone

And it’s you when I look in the mirror
And it’s you when I don’t pick up the phone
Sometimes you can’t make it on your own

(This is it)
I know that we don’t talk
I’m sick of it all
Can, you, hear, me, when, I, sing
You’re the reason I sing
You’re the reason why the opera is in me

Well hey now, still gotta let ya know
A house doesn’t make a home
Don’t leave me here alone

And it’s you when I look in the mirror
And it’s you that makes it hard to let go
Sometimes you can’t make it on your own
Sometimes you can’t make it
Best you can do is to fake it
Sometimes you can’t make it on your own

This is one of my all time favorite song ever. Maybe the most powerful song i ever heard, especially on the part:

“Can, you, hear, me, when, I, sing
You’re the reason I sing
You’re the reason why the opera is in me.”

Breathtaking. U2 will always be one of my greatest band off all time🙂

Soren,

280511 / 19:45

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Senjakala di Sebuah Kota

Sore yang tenang, di tengah-tengah deburan ombak yang berkejaran disana. Di tengah lautan yang dalam dan bergelombang, pada tepian kota..

Entah berapa tahun atau abad. Sang senja tak pernah datang terlambat. Selalu hadir dan tenggelam tanpa pernah terekam.. Merah mencekat.

Di kejauhan para nelayan berhenti sejenak. Seakan termangu dalam senja keemasan, dan malam seperti tak ingin segera datang.

Lalu kulihat sepasang baya di dinding kota. Asyik bercengkrama, terbalut riuhnya ombak dan selimut cahaya.. Dan cahaya yang semakin fana.

Tembok Berlin. Begitulah mereka menyebutnya. Entah darimana awalnya. Mungkin romantisme akan bersatunya dua anak manusia..

Dan senja pun semakin tenggelam, meninggalkan kenangan. Tapi toh anak-anak pantai nun jauh disana tetap bersenda gurau sesamanya, berkejaran.. berlarian tak tentu arah.

Karena ia akan selalu datang, tenggelam di tengah lautan yang dalam dan bergelombang.. bagi mereka yang selalu memiliki impian, juga harapan..

Di sebuah kota yang selalu bermandikan senja.

Sorong, 15 Mei 2011


Posted in Poem | Tagged , | Leave a comment

Kata adalah Senjata

Hari itu adalah hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya di tahun 1983.
Setidaknya bagi sekelompok orang berpakaian adat, bermata cokelat namun berwajah hitam -karena topeng yang menutupinya- di rimbunnya hutan Lancandon, Chiapas, Meksiko. Dengan AK-47 dan senapan kayu yang tergantung dibahu masing-masing, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya ketika mereka membentuk pasukan gerilya masyarakat adat Chiapas.
Hari yang sama, karena perjuangan berlandaskan ideologi Zapatista itu masih berlangsung. Menentang pendudukan pemerintah Meksiko atas lahan-lahan adat yang telah mereka tinggali selama berabad-abad dan terberangusnya hukum adat oleh “revolusi ekonomi” neoliberal pemerintah.
Saat-saat dimana amisnya darah dan tangisan anak kecil yang kehilangan orangtuanya menjadi keniscayaan dalam sebuah kata ‘perjuangan’.

Namun satu-hari-yang-sebenarnya-sangat-biasa-seperti-hari-hari-sebelumnya-di-tahun-1983 itu ternyata bukanlah hari yang biasa saja.
Pekatnya hutan Lancandon yang terasa mistis dikala malam, serta dinginnya angin gunung yang menusuk kulit seakan tak mampu mengusik keteguhan seorang lelaki paruh baya, berperawakan tinggi besar dan bermata biru untuk datang menghadiri perayaan maut. Maut yang bisa saja menyergapnya tiba-tiba di tengah kegelapan malam.
Ya, hari itu sangat berbeda.
Gelapnya hutan Lancandon bahkan tak mampu menyembunyikan isyarat intelektualitas dan gurat idealisme laki-laki tersebut.
Idealisme yang menuntunnya untuk pergi meninggalkan gelar profesor yang disandangnya, untuk berbaur dan ikut berjuang dengan para tubuh-pendek-berwajah-hitam-bersenjatakan-laras-panjang di hutan-hutan dataran tinggi Chiapas.

The Bravery

Subcomandante Marcos dengan beberapa anggota paramiliter EZLN

Namun bukan amunisi yang berada didalam ranselnya kala itu.
Bukan sepucuk pistol Glock dengan peluru tajam didalamnya.
Bukan pula celoteh-celoteh Marx akan ketiadaan kelas di masyarakat.
Yang ada hanyalah tumpukan novel dan puisi dari para begawan sastra Amerika Latin yang penuh dengan kata-kata realisme magis Garcia Marquez, hingga karya-karya Octavio Paz yang menganggap revolusi kata adalah revolusi dunia.

Dan semenjak itu, sejarah politik revolusioner Amerika Selatan tidak akan pernah sama lagi dengan sebelumnya.
Tak akan pernah sama lagi, sejak munculnya seorang ber-balaclava hitam, bertopi tentara, dengan cangklong yang tak pernah berhenti mengepulkan asap.
Ia ganti rentetan suara magazin peluru kaum Zapatista dengan runtutan kata dalam komunike-komunikenya.
Ia simpan laras-laras panjang pasukannya dan menulis cerita lucu tentang seekor kumbang kecil berkacamata dan menghisap pipa bernama Durito.

Ia menamai dirinya dengan sebutan
Subcomandante Marcos.

Bagi Marcos, jalan sebuah perjuangan bukan hanya pertempuran mempertaruhkan nyawa, bukan hanya darah yang memuncrat dimana-mana, dan bukan pula peluru-peluru tajam serta ledakan mortir belaka yang hanya menimbulkan tangis dan dendam tak berkesudahan.
Ada yang lebih tajam dari sekadar sebutir peluru.
Lebih mematikan dibandingkan racun.
Lebih cepat dari sebutir peluru tajam.
Lebih dari itu,
Baginya kata adalah senjata.
Kata adalah senjata.

“Adalah kata-kata
yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk
dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat lain
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…
Inilah senjata kita saudara-saudaraku.”

(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1995)

AAG
Pondok Jingga, Mei 2010

Posted in Roman | Leave a comment

Sepotong Surat Tanpa Alamat

Dear Nadia,

Bagaimana kabarmu sekarang? Bagaimana juga dengan sakit kepalamu yang sering timbul menjelang ujian itu? Dan flu yang sering kau mintakan obatnya padaku? Semoga kau sehat-sehat saja, Nadia. Karena sudah lama kita tak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.

Nadia, masihkah kau mengenakan rok panjang dan membiarkan rambut panjangmu tergerai? Membawa tas kecil, sepotong sapu tangan merah dan bersikap ramah seperti saat pertama kali kita jumpa? Maaf, jika aku bertanya yang tidak-tidak. Hanya saja cuma itu yang bisa aku ingat darimu, selain harum Samsara yang kau pakai. Karena sudah lama kita tidak berjumpa, meski hanya lewat mimpi.

Nadia, mungkin kau tengah memakai mantel tebal, atau bersyal hangat, ketika menerima suratku ini. Karena yang aku tahu, tanah tempatmu berada kini telah terselimuti kapas putih, dan secangkir kopi panas jadi menu wajib sehari-hari. Tapi bisa saja semua itu hanya ada di bayanganku saja, karena mungkin suratku akan sedikit terlambat beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Atau malah mungkin kau takkan pernah menerima suratku ini, Nadia.

Aku ada disini Nadia,

Mencoba menulis surat ditempat dimana kau pernah memesan sebuah kelapa muda, dengan dua sedotan bersamanya. Dan kini aku tengah memandang senja di batas cakrawala, beserta mega yang berarak diatasnya. Merasakan hembusan udara yang belum terkotori ampas manusia, sambil mendengarkan suara ombak yang pecah menerpa karang. Memesan sebuah kelapa muda, hanya saja dengan satu sedotan di atasnya. Mencoba menghilang dari hiruk pikuk kota, untuk kembali mengisi jiwa. Jiwa yang tengah didera hampa.

Orang-orang hilir mudik didepanku, Nadia. Entah darimana dan mau kemana. Semuanya terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Seorang anak kecil dengan istana pasirnya, seorang kakek renta dengan sampannya, seorang wanita muda dengan krim matahari-nya, seorang pria dengan anjing Saint Bernard kesayangannya, sepasang kekasih yang saling berkejaran tak tentu arah.

Seseorang, seseorang, seseorang. Berpuluh-puluh seseorang. Tapi tak kukenal seorangpun dari wajah-wajah mereka, Nadia. Mungkin mereka semua sama denganku. Mencoba menjauh dari gemerlap cahaya kota, dengan menyepi di bawah temaramnya senja.

Nadia, aku masih ingat ketika suatu kali kau bercerita, yang katamu sebuah kisah nyata. Tentang manusia yang ingin melihat keindahan dunia dari atas sana, dan akhirnya bermimpi tentangnya. Dimana dalam mimpinya ia bersayap dan mampu terbang melayang diantara awan. Melihat berbagai keindahan dunia, sampai timbul keinginan untuk melihat dunia dari tempat yang lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dari gunung yang paling tinggi. Cukup tinggi sampai ia bisa melihat keindahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun terkadang, angin di bawah kuatnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan angin di atas sana. Diapun terjatuh, jatuh yang sakitnya tidak seberapa namun lukanya masih ada. Masih tetap ada hingga dia terbangun dari tidurnya. Dan tahukah kau, Nadia? Kini aku percaya dengan ceritamu itu. Karena aku sendiri mengalaminya.


Nadia, Nadia, Nadia…

Kadang aku masih bertanya-tanya, Nadia.

Bertanya akan makna dari lilin-lilin yang menyala di atas meja, secangkir kopi hangat yang kau pesan, percakapan yang kadang tersela, dan lagu yang kau pilih pada jukebox disamping meja. Bertanya akan makna bisikan, tawa kecil, senyum simpul dan pandangan mata. Bertanya akan makna sebuah kata, ‘cinta’.

Mungkin aku terlalu larut oleh perasaan, atau mungkin juga tidak. Mungkin aku terlalu banyak bernostalgia, hingga melupakan semuanya. Melupakan dunia dimana seharusnya aku berada. Mungkin saat ini seharusnya aku berada di belakang meja, berada diatas kursi empuk dan menghadapi tumpukan kertas-kertas kerja. Menandatangani berkas-berkas proyek yang dibiayai oleh PMA, menyundut sebatang rokok, dan, mungkin, memutar keras-keras CD The Adams. Dengan lagunya yang ‘Konservatif’, mungkin.

Mungkin, mungkin, dan mungkin. Terlalu banyak kemungkinan memang dalam hidup ini, Nadia. Dari kemungkinan terburuk, sampai yang terbaik. Dari kemungkinan untuk terjatuh dalam kesalahan, hingga kemungkinan untuk berhasil memperbaikinya. Dari kemungkinan satu, sampai kemungkinan yang lain. Begitu banyak kemungkinan, namun hanya sedikit yang berupa kepastian. Yang pasti mungkin hanyalah masa lalu. Dan masa laluku telah terkubur, entah kemana, bersama pasir pantai yang tersapu ombak ke tengah samudera.

Aku masih disini Nadia,

Masih ditempat dimana kau dulu pernah bersandar di bahuku, untuk akhirnya tertidur didalam pelukan. Dan sekarang aku tengah memandangi senja yang semakin lama semakin kelam, tertutup tirai hitam yang turun ke atas panggung cakrawala. Merebahkan diri di atas hamparan pasir putih, sambil sesekali mengecek hp-ku. Siapa tahu ada pesan dari kantor. Tapi, sejujurnya akupun tak akan menghiraukannya kalaupun ada. Biarlah hari ini aku disini. Memikirkan tentang diriku sendiri, dan sejenak melupakan orang lain. Memikirkan apa yang telah aku lakukan, yang sedang aku lakukan, dan yang akan aku lakukan. Memikirkan ke mana arah hidupku akan berjalan.

Kini, orang-orang yang tadi ada depanku itu telah menghilang dari tempatnya, Nadia. Sepertinya mereka semua telah mendapatkan belahan jiwanya. Pulang kerumah masing-masing dengan tawa lepas dan perasaan lega. Mungkin,  mereka semua kini sedang bergembira bersama kedua orang tua, sanak saudara, kucing kesayangan, atau mungkin kekasih tercinta. Dan yang tertinggal kini hanyalah kenangan, yang cuma bisa diingat, tanpa bisa terulang.

Yang ada di dekatku kini hanya seorang wanita dengan lentera. Mencoba memberiku secercah cahaya, diantara pekatnya malam. Mengajakku pergi dari kesendirian, untuk kembali ke keramaian. Cahaya yang, percayalah, hangatnya dapat aku rasa, walau tidak pernah aku meminta.

Tapi aku belum mau pulang. Setidaknya bukan sekarang. Tidak dengannya, orang kantor, ataupun juga dengan kau, Nadia, jika kau bertanya. Belum, belum saatnya. Mungkin belum saatnya. Saat ini aku masih ingin disini, mencari-cari sesuatu yang masih belum aku temukan jawabannya. Aku masih ingin menikmati kesendirianku, mendengarkan suara hati yang telah lama tertutup nafsu. Merebahkan diri di atas pasir, memandang jauh ke atas langit. Berharap menemukan bintang jatuh, hingga permintaanku dapat terpenuhi. Saat ini aku masih ingin disini, sendiri.


Depok, 15 October ’05.

23:07

Posted in Roman | Leave a comment

Jazz, Monorel, Sudirman, Maliq n D’Essential… part II

Macet? Sudah lupa tuh. Sedikit plesetan dari jargon sebuah obat batuk itu sepertinya cocok dengan yang sedang kami rasakan. Ditemani hentakan beat-beat ringan dari Maliq, tanpa terasa tibalah di sebuah jalan yang diberi nama Sudirman. Entah oleh siapa, pastinya ia mungkin seorang pengagum Jenderal Besar yang bahkan ketika sakit pun masih tetap berjuang ini. Seperti namanya, secara harfiah jalan itu memang ‘besar’. Besar, karena kurang lebih enam buah jalur yang ada, relatif sangat lebar. Jalan inipun ‘besar’ dalam artian telah tumbuh menjadi salah satu kawasan elit yang ada di Jakarta. Bangunan-bangunannya yang kebanyakan berasal dari era megalitikum: tinggi dan besar, juga seperti mempertegas ‘kebesaran’ dari jalan ini.

Tiba-tiba dijalan itu sesuatu yang tidak biasa terjadi. Ajaib, lebih tepatnya lagi. Mungkin kata inilah yang paling tepat untuk menunjukkan kelebihan dari musik yang sedang kami dengarkan. Lahir di New Orleans, Amerika, sebagai bentuk ‘kemerdekaan’ dari keterbudakan, jazz tentu saja diisi oleh raungan akan kebebasan. ‘Kebebasan’ yang diwujudkan dalam wujud permainan yang tidak saling ‘menjajah’ satu sama lainnya. Dimana setiap personel memiliki ‘kemerdekaannya’ sendiri-sendiri untuk bebas berimprovisasi. ‘Kemerdekaan’ itupun ternyata sampai juga disini. Didalam mobil Jazz ini.

Keajaiban itu sebenarnya mulai muncul ketika track ke-4, “Blow My Mind” mulai menggema. Entah bagaimana, pembicaraan kami mulai ngalor-ngidul kemana-mana. Dari ipod-nya apple yang harganya jutaan, sampai Apple Mac G4 yang hampir semua desainer grafis kepingin… Dari mulai Miss Indonesia asal Fisip yang sempat berkenalan dan gw foto, sampai masalah lelaki… Dari…

Semua hal yang bersifat duniawai kami babat habis sepertinya disini. Keterbuaian kami ini pada akhirnya hampir saja membuat celaka. Sebuah bus Maya Sari Bhakti hampir kami ‘goda’. Alah, maksudnya kami tabrak. Untuk sesaat pikiran-pikiran tersebut kami repress ke alam bawah sadar. Namun hal ini tidak dapat bertahan lama ternyata.

*           *           *

Kamipun sampai di track ke-15. Sebuah untitled track. (Yang belakangan gw tau klo judulnya adalah ‘Ketika’, bukan ‘Lagunya Asoy’ seperti yg selama ini gw liat didalam playlist winamp gw –dan juga teman-teman gw di kampus). Bait pertama pun mengalun keluar..

“Ketika.. kurasakan sudah.. ada ruang di hatiku yang kau sentuh..

dan ketika.. kusadari sudah.. tak selalu indah cinta yang ada..

mungkin memang ku yang harus mengerti..

bila ku bukan yang ingin kau miliki..

salahku bila, kaulah yang ada di hatiku…”

(Entah apa karena lagunya yang memang begitu menohok atau karena pada dasarnya kami ini sekumpulan orang yang sensitif haha..’-_-) Untuk sesaat, aura yang kami rasakan sangat berbeda. Suasana di dalam mobil tiba-tiba berubah menjadi hening. Ya, sangat hening.. Secepat inikah mood kami berubah hanya karena sebuah lagu yang bahkan baru pertama kali kami dengar?

Kami semua terdiam.. terpaku didalam keheningan. Jalanan yang lengang, hawa dingin dari AC yang menusuk tulang, dan langit yang masih gelap seperti mempersilahkan lampu-lampu jalan untuk menghangatkan kami yang tengah didera kedinginan.. dalam keheningan malam. Bintang-bintang yang mengintip diatas sana pun juga seperti tak kuasa menandingi gemerlapnya cahaya yang datang dari kanan dan kiri jalan.

Kami semua seperti dibawa untuk mengingat kembali semua kenangan di masa lalu. Dari kenangan akan PSAU yang begitu menyenangkan, sampai bayangan akan rambut hitam panjang dari seorang wanita yang cukup menyakitkan. Gw bahkan sampai harus mengingatkan teman yang duduk di sebelah untuk tidak ‘terbuai’ lagi untuk yang kedua kalinya. Bisa bahaya (lagi).

Tidak terhitung telah berapa kali kami memutar bolak-balik lagu-lagu yang ada dalam CD-nya Maliq itu. Dan anehnya, kami masih saja ‘terbuai’ oleh lagu-lagu tersebut. Namun, dalam setiap pertemuan pastilah ada perpisahan. Dan akhir itu ternyata ada di Tanjung Barat.

*          *          *

Sorot lampu merah itu tiba-tiba menyilaukan mata kami yang kosong. Sedikit membangunkan kami dari ’tidur panjang’ yang sedang kami rasakan. Kami terkesiap. Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suara yang semakin lama semakin nyaring terdengar. Suara yang sepertinya bukan dari ‘alam’ yang sedang kami nikmati ketika itu -dan kata-katanya pun kami yakin bukan bagian dari lagu yang sedang kami dengar. Suara yang sepertinya pernah kami dengar dan kami kenal. Kami ‘kenal,’ karena begitu dekat dengan kehidupan kami sehari-hari. Kami bisa mendengar suara-suara itu di perempatan jalan, kereta api, halte bikun, bahkan di kantin fakultas kami. Suara yang.. ah, sebenarnya tidak mau kami dengar, tapi merupakan realitas yang harus kami hadapi dan kalau bisa.. tunggu, bukan kalau bisa, harus bisa kami ‘hilangkan’ dari soundtrack dunia ini..

Suara itu ternyata berasal dari balik kaca jendela. Keluar dari sepasang bibir yang sudah tampak mengering dari seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Berpakaian kumal, sambil sibuk menggendong seorang bayi di tangan kirinya dan sebuah gelas plastik di tangan kanannya. Ia tengadahkan tangan kanannya. Bibirnya masih mengeluarkan suara-suara tersebut, berharap kami memberi mereka sedikit ‘kesenangan fana’ yang telah kami rasakan sebelumnya. Dalam ‘keterbuaian’ kami. Sejenak kami terdiam.. berpandangan.. namun sekarang, dengan mata yang tanpa kekosongan..

Alhamdulillah..

Guys, selamat datang (kembali) di dunia fana (yang nyata)!

* FIN *

AAG, Asrama Mahasiswa UI 2005

Posted in Roman | Leave a comment

Jazz, Monorel, Sudirman & Maliq n d’Essential… Part I

bro,lu lg di asrama ga?

Gw hari ini mo ke jkt

ngambil komputer, lu mo ikt ga?

Sent:

26-Mar-2005

14:21:58

Kipas angin merek Maspion itu kini terlihat seperti baru lagi. Debu-debu yang kemarin masih terlihat dengan jelas kini seakan segan untuk menempel kembali. Hari Sabtu itu gw memang lagi kosong, ga ada kerjaan. Pengen belajar, bosen (haha..); mau maen keluar, lagi ga ada duit.. Ya udah, jalan deh rencana dari 2 minggu kemarin buat ngebersihin kamar dan segala perabotannya itu.

Belum sempat beralih ke perabotan lainnya, tiba-tiba sesosok ‘penampakan’ berwujud pria gundul berkacamata muncul di depan pintu.. Ternyata temen gw dari kota yang katanya sering ‘ngirim’ banjir ke Jakarta.

“Bro, jadi ikut?” sambil tetap memasang earphone dikedua lubang telinganya yang gw yakin ‘isinya’ Prambors.

“Eh.. cepet banget datengnya. Baru aja gw terima sms dari lo,” sahut gw.

“Hehe.. tadi gw nge-sms lo pas gw udah nyampe di sini. Gimana, jadi gak? Yah, sekalian refreshinglah.. sebelum mid-test ntar Senen. Jangan belajar aja lu ah! Basi!”

“Haha.. bisa aja lo. Sip-sip!! Kali aja ada pemandangan asyik di jalan,” jawab gw tanpa pikir panjang lagi.

Akhirnya rencana gw hari itu buat bersih-bersih kamar, terpaksa harus gw cancel (lagi). Yah, gpp lah, besok juga bisa dilanjutin, kan besok masih libur.. kata gw dalam hati (yang ternyata baru kesampaian 3 minggu kemudian..’^_^

*    *    *

Hari itu ternyata kita berangkat bertiga, bersama seorang ‘psikopat’, sebutan untuk kami ‘anak-anak UI psikologi dua ribu empat’, yang sekarang sedang beralih profesi menjadi seorang ‘juragan jaket’. ‘Juragan jaket,’ karena manusia inilah yang nge-handle urusan jaket angkatan fakultas gw. Salut deh gw sama otak bisnisnya hehe.. Sempat singgah di Kober sebentar untuk mengambil uang, dari sana kami pun langsung meluncur ke Jakarta.

Main quest selesai, dan kami pun menjauh dari Mall Ambassador tempat kami mengambil komputer, bersama CPU yang telah diperbaiki untuk pulang.. Pulang ke kota dimana kami, tiga ‘makhluk hidup yang rasional dan berindera’, menghabiskan sebagian besar dari hidup kami untuk belajar, menuntut ilmu (dan juga nyap-sah), Depok ‘Kota Idaman’..

*    *    *

Ternyata jalan kami untuk pulang lebih terjal dari jalan yang kami gunakan untuk pergi. Jam di mobil yang kini tengah stuck, ditengah kemacetan, masih menunjukkan pukul empat lebih sedikit. Masih sore sebenarnya, tapi langit waktu itu sudah kelihatan seperti langit diwaktu malam, hitam kecoklatan. Hampir mirip dengan warna dari kue brownies a la Kartika Sari yang hm..

Hff.. namun kali ini gw menghela napas dan sedikit mengerutu. Bayangan kue brownies kini telah terganti oleh hujan, petir, dan badai. Sepertinya tinggal masalah waktu saja hujan datang. Terlihat di langit, awan-awan seperti sudah tidak mampu lagi menahan air yang sepertinya ingin segera kembali ke bumi. Dugaan itu ternyata benar, beberapa tetesan air hujan terlihat mulai membasahi beberapa bagian dari kaca depan mobil yang kami tumpangi.

“Untung pake mobil ya, hujannya bakalan gede banget nih,” kata temen gw, ‘juragan jaket’, yang duduk di kursi belakang.

“Iya, ya..” sahut gw.

Disaat hujan itu, satu-satunya hiburan di dalam mobil berwarna biru mutiara itu hanyalah sebuah tape bermerek JVC. Merek yang hampir menghiasi semua mobil Jazz lain yang ada di jalanan. Dari dalam benda berfasad persegi dan berwarna perak itulah dua penyiar Prambors terdengar masih asyik-masyuk ngoceh kesana kemari. Dari obrolan yang serius sampai banyolan-banyolan yang gak jelas maksudnya, muncul dalam obrolan mereka sore itu. Hampir seperti proyek busway yang mulai gak jelas arahnya kemana..

*    *    *

Pukul enam lebih sedikit, tanda-tanda bila kemacetan mulai mereda muncul juga. Namun untuk masalah hujan, tanda yang kami tunggu-tunggu itu masih belum juga muncul. Tampaknya kami harus lebih bersabar.

Satu-persatu, kendaraan lain yang selama kemacetan setia menemani kami, perlahan-lahan mulai menambah kecepatannya dan meninggalkan kami di belakang. Baru gw sadari, sudah hampir dua jam kami terjebak dalam kemacetan yang, menurut gw, sangat melelahkan.. mentally and physically..

“Sudah biasa kali, macet di kota sebesar Jakarta gini mah,” terdengar lagi suara dari belakang.

“Ah, lieur aing mah euy di Jakarta!” sundanese gw akhirnya keluar.

Sepertinya ia kasihan melihat muka gw yang sedikit.. bt mungkin. Benar juga kata dia.. Ya sudahlah, gw ambil positifnya aja. Yang penting kini kami bisa lebih leluasa melihat keindahan kota Jakarta tanpa terganggu sama yang namanya macet, batin gw dalam hati. Suara batin yang kemudian membawa gw ke perjalanan spiritual gw yang pertama..

*    *    *

Harapan gw untuk segera melihat keindahan itu ternyata dikabulkan begitu cepat. ‘Keindahan’ yang berupa batang-batang pohon yang telah habis ditebang. Catat: dibabat, bukan dipindahkan seperti yang selama ini dijanjikan dan ditulis di koran-koran. ‘Keindahan’ itu tepat di atas lahan yang kalau tidak salah merupakan area proyek ambisius Jakarta.. monorel.

Mata gw terpaku beberapa saat melihat pepohonan yang kini kira-kira tinggal setinggi betis itu. Gw perhatikan diameternya.. dan bisa gw pastikan kalo umur mereka jauh lebih tua dari ‘bang gubernur’ yang memerintahkan penebangan terhadap mereka. Ironis. Kalau benar itu terjadi karena imbas dari proyek tersebut, sungguh sangat ironis. Disaat segelintir manusia menginginkan ‘kemajuan’ dalam hal ‘peradaban’, ternyata sesuatu yang disebut dengan ‘kemajuan’ itu harus dicapai dengan cara mengorbankan ‘peradaban’ yang lain.

Tiba-tiba pikiran gw menerawang jauh. Gw menghela napas cukup panjang.. suka atau tidak suka, ya inilah dia.. potret wajah ibukota kita. Wajah yang terus mempercantik diri dengan alas bedak berupa beton tumbuk, maskara berupa limbah pabrik, perhiasan yang berupa papan-papan billboard berukuran besar yang bertebaran disepanjang jalan.. dan mungkin sedikit tindikan di daerah tertentu berupa kehidupan malam. Yah, inilah dia.. kota yang dengan kemolekannya, telah membuat banyak orang jatuh terlena.. Dan gw pun hanya bisa melakukan serendah-rendahnya iman gw.. yaitu berbuat dengan hati..

Lelah akan pergumulan dengan batin sendiri di ‘dunia idea’, gw pun berusaha kembali ke ‘dunia jasmani’. Radio yang sejak awal menemani perjalanan kami, kini sudah terasa mulai membosankan. Untungnya, sebuah CD dari grup musik yang bisa disebut beraliran apa ya? jazz yang sedikit dibalut dengan aroma pop mungkin, kebetulan gw temukan di dalam mobil. Tergolek tanpa daya disebelah rem tangan yang sedang dalam keadaan bebas.

“Maliq ya?,” kata gw.

“He-eh,” jawab teman disebelah gw yang sedang menyetir, sambil memasangkannya ke dalam tape.

Dan ‘perjalanan spiritual’ kami pun dimulai kembali..

Bersambung…

Posted in Roman | 1 Comment

Sebuah Cerita dari Kamar Sebelah

Waktu sudah mulai beranjak malam, ketika dan untuk pertama kalinya aku mendengar mereka saling bercerita. Sepotong cerita lebih tepatnya. Tentang kehidupan, balada anak-anak manusia, dengan embel ‘mahasiswa’ didepan nama mereka.

*          *          *

Pada mulanya yang kudengar hanya raungan gitar listrik dan cabikan bas dari satu band yang aku kenal betul permainannya, RATM[i]. Hingga akhirnya terucap si kata sakti. Aksi.

“Eh, ngomong-ngomong.. besok siang lo lo semua pada mau ikut aksi?”
“Aksi? Demo maksud lo?”
“He eh. Aksi, demo, demonstrasi.. sama aja men”
“Kepengen sih, cuma gak tau juga. Gw ada kuliah besok siang.”
“Kalo lo?”
“Pengen sih, pengen banget.. Cuma enggak boleh sama mamah. ‘Jangan ikut-ikutan kaya gitu’ katanya. Takut ada kenapa-kenapa.. ”
“Huuuu!!!”

Sejenak kututup bukuku. Ribut sekali mereka.
Kamar mereka dengan kamarku memang hanya dibatasi oleh dua lembar triplek. Dua lembar triplek yang hampir tak mungkin menyembunyikan segala suara bising dan riuh yang mereka timbulkan hampir setiap harinya. Tapi tak pernah mereka seribut ini.

Di kos-kosan ini memang tidak ada peraturan jam tenang. Yang ada hanya ‘batas ketenangan’. Masing-masing menenangkan dirinya sendiri, dan yang tidak bisa tenang akan coba ‘ditenangkan’ oleh penghuni kamar yang lain hingga tercapai ‘batas ketenangan’. Dan menurutku mereka belum melewati ‘batas ketenangan’ tersebut. Jadinya kudiamkan, bahkan tertarik jadinya ku mendengarkan.

“Trus, kamu sendiri gimana?”
“Ikut dong! Kita ini mahasiswa! Penyambung aspirasi rakyat! Agent of change! Aktor intelektual![ii] Kalau enggak sekarang, kapan lagi coba?”
“Mau aktor kek, mau agen.. aksi-kagak aksi juge same aje.. kagak didenger ama pemerentah. Tau gak lo..”

Mereka pun melanjutkan perdebatannya. Agak terdengar lebih mirip debat kusir memang, namun tak apalah, selama abang-abang kusir yang mereka perdebatkan juga tidak tersinggung namanya mereka catut.

Bicara tentang aksi, akupun teringat akan sesuatu.

‘Aksi mungkin tidak akan merubah keadaan, namun tanpa aksi tidak akan ada yang namanya perubahan.’

Jargon itu. Semboyan itu. Cukup sering aku mendengarnya dari teman-teman kampusku yang gemar ‘ber-aksi’. Yang saking gemarnya, kadang-kadang tega meninggalkan temannya presentasi sendirian di depan kelas. Dan cukup sering pula aku melihatnya menempel di dinding-dinding gang menuju kampus, disebelah poster ajakan rave party dan pensi dari anak-anak SMU. Jargon itu. Semboyan itu. Seperti sebuah jawaban akhir terhadap pertanyaan-pertanyaan apatis dari mereka-mereka yang juga apatis. Yang menganggap demonstrasi hanya menghabiskan uang dan tenaga tanpa hasil. Mending sekalian leyeh-leyeh, nyodok, atau nongkrong seharian di kantin. Lebih worth it, kalau kata anak-anak jaman sekarang bilang.

Asyik memang, mendengarkan obrolan-obrolan dari mereka-mereka yang pikirannya masih fresh. Seperti sedang memakai sebuah kaca mata hitam, semua hal terlihat begitu hitam putih di mata mereka. Kalau tidak benar, ya salah. Begitu juga sebaliknya.

I-dea-lis-me.
Sepertinya perlu enam tahun bagiku untuk mundur ke masa itu. Masa-masa dimana kuterima dengan bangga jaket almamaterku.

*          *          *

Kelamaan nguping, capek juga. Kuseruput secangkir kopi panas yang ada di atas tumpukan lembaran bahan skripsiku. Bergeletakan seperti serdadu yang kalah perang. Inilah sebuah tugas besar, tugas pamungkas dari seorang mahasiswa. Adakah tugas akhir lain selain menyelesaikan skripsi dari seorang mahasiswa tingkat (sangat) akhir? Aku rasa tidak ada, selain mencari pasangan untuk foto bersama saat wisuda nanti tentunya.

Kubiarkan cairan hitam pekat itu berputar sebentar didalam rongga mulutku. Sedikit pahit namun segar juga. Aku geser kursi ke sudut ruangan, menghadap jendela, disamping poster besar Che[iii] dan Marcos (yang tidak pernah lepas dari cangklongnya). Lalu akupun duduk disana, sambil menyundut sebatang rokok Dji Sam Soe, hingga tenggelam dalam kepulan asap pekatnya semenit kemudian. Kupersilahkan angin semilir masuk, hingga membelai dingin tengkuk dan leherku. Rokok. Kata orang, seorang perokok tidak akan pernah tua, karena mereka semua mati muda. Smokers never grow old, because they’re die young. Benar juga. Sempat terpikir olehku untuk mematikan dan membuangnya jauh-jauh keluar jendela.. Tapi sebentar, toh banyak juga orang-orang yang mati muda walau tidak merokok. Ini hanya masalah pilihan: merokok atau tidak. Kupilih yang pertama, dan tentu saja dengan segala konsekuensinya. Maka kulanjutkan menenggelamkan diri didalam kepulan asap pekat dan semilir angin yang kupersilahkan membelai dingin tengkuk dan leherku, sampai kudengar suara riuh redan kembali dari kamar sebelah.

*          *          *

“Eh, liat tuh di tivi”
“Apaan?”
“Ck,ck,ck..”
“Et dah! Apa kagak malu tu orang?!”
“Malu-maluin aja…”
“Gak tau apa ya, klo temen-temen mereka yang sekarang lagi demo di depan istana mungkin lagi saling timpuk sama aparat, bukan sama sesamanya?!”
“He eh, dasar nggak punya otak tu orang-orang!”

Segala sumpah serapah terdengar ditimpakan kepada sesuatu. Sesuatu yang entah apa. Penasaran, kunyalakan dan kucari darimana sumbernya. Kutemukan, dan kulihat seorang wartawati di televisi tuaku sedang melaporkan sesuatu.

“…kelompok mahasiswa, masing-masing dari universitas —– dan universitas —–, terlibat tawuran siang hari ini di Jalan —–. Entah siapa yang memulai atau memprovokasi, tiba-tiba saja sekitar pukul satu siang tadi, dua kelompok mahasiswa yang kampusnya masih saling berdekatan ini terlibat bentrok. Adapun konsentrasi massa dari kedua belah kelompok hingga saat ini masih terjadi. Mereka terlihat masih berjaga-jaga didepan kampusnya masing-masing dikarenakan adanya kekhawatiran akan adanya serangan susulan. Meski suasana pada malam hari ini relatif lebih kondusif bila dibandingkan kondisi siang tadi, jumlah aparat keamanan yang melakukan pengamanan terlihat tidak berkurang. Dari data yang kami peroleh, tidak ditemukan adanya korban jiwa dari peristiwa ini. Hanya saja puluhan mahasiswa dan masyarakat, yang terlibat atau kebetulan berada di lokasi bentrokan, harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka ringan seperti terkena lemparan batu, parang…”

Dilayar televisi itu kulihat segerombolan mahasiswa saling berhadap-hadapan dengan api kebencian yang berkobar begitu dahsyatnya. Api yang entah dari mana asalnya. Tak kurang dari sedetik, mereka kemudian saling melempar batu, umpatan, makian, menyabet parang, bahkan bom molotov[iv]. Kemarahan, kebencian, perselisihan. Mengapa kita harus saling membenci dan menyakiti bila menyayangi bisa lebih menyenangkan? Aku tidak tahu jawabannya. Dan akupun melanjutkan pekerjaanku sebelumnya.

*          *          *

Waktu sudah mulai beranjak malam, ketika untuk pertama kalinya aku mendengar mereka saling bercerita. Bercerita tentang kemarin, kini dan esok hari. Dan kini malam telah larut. Sangat larut. Namun mereka masih saling bercerita, tentang demonstrasi esok hari.
Dan aku masih mendengarkan.

Asrama Mahasiswa UI, Depok
Oktober 2005


CATATAN

[i] RATM atau Rage Against The Machine. Band beraliran rock asal Amerika yang hampir selalu memasukkan unsur-unsur sosial dan politik dalam setiap konser dan syair-syair lagunya. Pernah membakar bendera negara mereka sendiri, sesaat sebelum manggung di Woodstock pada tahun 1999 untuk memprotes pemerintahan yang mereka pandang membohongi rakyat.

[ii] Ungkapan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat, agen perubahan, dan aktor intelektual, dikenal luas sejak mereka berperan di garis terdepan dalam menjungkalkan Orde Baru. Namun sebenarnya, jauh sebelum itu mahasiswa telah lama membuktikan ungkapan-ungkapan tersebut.

[iii] Ernesto Guevara (1928-1967) atau lebih dikenal dengan nama Che Guevara. Seorang sarjana kedokteran, pencetus teori revolusi dan pemimpin perang gerilya. Sepertinya hampir tiada seorangpun, yang mengaku sebagai aktivis kampus, yang tidak mengenalnya.

[iv] Bom Molotov atau Molotov Cocktail. Jenis granat sederhana yang dibuat dengan cara mengisikan gas kedalam botol beling dan memasukkan kain lap hingga bagian lehernya. Digunakan dengan cara menyulut kain yang terjulur keluar, sesaat sebelum melemparkan botol ke arah sasaran.

Posted in Roman | Leave a comment