Jazz, Monorel, Sudirman & Maliq n d’Essential… Part I

bro,lu lg di asrama ga?

Gw hari ini mo ke jkt

ngambil komputer, lu mo ikt ga?

Sent:

26-Mar-2005

14:21:58

Kipas angin merek Maspion itu kini terlihat seperti baru lagi. Debu-debu yang kemarin masih terlihat dengan jelas kini seakan segan untuk menempel kembali. Hari Sabtu itu gw memang lagi kosong, ga ada kerjaan. Pengen belajar, bosen (haha..); mau maen keluar, lagi ga ada duit.. Ya udah, jalan deh rencana dari 2 minggu kemarin buat ngebersihin kamar dan segala perabotannya itu.

Belum sempat beralih ke perabotan lainnya, tiba-tiba sesosok ‘penampakan’ berwujud pria gundul berkacamata muncul di depan pintu.. Ternyata temen gw dari kota yang katanya sering ‘ngirim’ banjir ke Jakarta.

“Bro, jadi ikut?” sambil tetap memasang earphone dikedua lubang telinganya yang gw yakin ‘isinya’ Prambors.

“Eh.. cepet banget datengnya. Baru aja gw terima sms dari lo,” sahut gw.

“Hehe.. tadi gw nge-sms lo pas gw udah nyampe di sini. Gimana, jadi gak? Yah, sekalian refreshinglah.. sebelum mid-test ntar Senen. Jangan belajar aja lu ah! Basi!”

“Haha.. bisa aja lo. Sip-sip!! Kali aja ada pemandangan asyik di jalan,” jawab gw tanpa pikir panjang lagi.

Akhirnya rencana gw hari itu buat bersih-bersih kamar, terpaksa harus gw cancel (lagi). Yah, gpp lah, besok juga bisa dilanjutin, kan besok masih libur.. kata gw dalam hati (yang ternyata baru kesampaian 3 minggu kemudian..’^_^

*    *    *

Hari itu ternyata kita berangkat bertiga, bersama seorang ‘psikopat’, sebutan untuk kami ‘anak-anak UI psikologi dua ribu empat’, yang sekarang sedang beralih profesi menjadi seorang ‘juragan jaket’. ‘Juragan jaket,’ karena manusia inilah yang nge-handle urusan jaket angkatan fakultas gw. Salut deh gw sama otak bisnisnya hehe.. Sempat singgah di Kober sebentar untuk mengambil uang, dari sana kami pun langsung meluncur ke Jakarta.

Main quest selesai, dan kami pun menjauh dari Mall Ambassador tempat kami mengambil komputer, bersama CPU yang telah diperbaiki untuk pulang.. Pulang ke kota dimana kami, tiga ‘makhluk hidup yang rasional dan berindera’, menghabiskan sebagian besar dari hidup kami untuk belajar, menuntut ilmu (dan juga nyap-sah), Depok ‘Kota Idaman’..

*    *    *

Ternyata jalan kami untuk pulang lebih terjal dari jalan yang kami gunakan untuk pergi. Jam di mobil yang kini tengah stuck, ditengah kemacetan, masih menunjukkan pukul empat lebih sedikit. Masih sore sebenarnya, tapi langit waktu itu sudah kelihatan seperti langit diwaktu malam, hitam kecoklatan. Hampir mirip dengan warna dari kue brownies a la Kartika Sari yang hm..

Hff.. namun kali ini gw menghela napas dan sedikit mengerutu. Bayangan kue brownies kini telah terganti oleh hujan, petir, dan badai. Sepertinya tinggal masalah waktu saja hujan datang. Terlihat di langit, awan-awan seperti sudah tidak mampu lagi menahan air yang sepertinya ingin segera kembali ke bumi. Dugaan itu ternyata benar, beberapa tetesan air hujan terlihat mulai membasahi beberapa bagian dari kaca depan mobil yang kami tumpangi.

“Untung pake mobil ya, hujannya bakalan gede banget nih,” kata temen gw, ‘juragan jaket’, yang duduk di kursi belakang.

“Iya, ya..” sahut gw.

Disaat hujan itu, satu-satunya hiburan di dalam mobil berwarna biru mutiara itu hanyalah sebuah tape bermerek JVC. Merek yang hampir menghiasi semua mobil Jazz lain yang ada di jalanan. Dari dalam benda berfasad persegi dan berwarna perak itulah dua penyiar Prambors terdengar masih asyik-masyuk ngoceh kesana kemari. Dari obrolan yang serius sampai banyolan-banyolan yang gak jelas maksudnya, muncul dalam obrolan mereka sore itu. Hampir seperti proyek busway yang mulai gak jelas arahnya kemana..

*    *    *

Pukul enam lebih sedikit, tanda-tanda bila kemacetan mulai mereda muncul juga. Namun untuk masalah hujan, tanda yang kami tunggu-tunggu itu masih belum juga muncul. Tampaknya kami harus lebih bersabar.

Satu-persatu, kendaraan lain yang selama kemacetan setia menemani kami, perlahan-lahan mulai menambah kecepatannya dan meninggalkan kami di belakang. Baru gw sadari, sudah hampir dua jam kami terjebak dalam kemacetan yang, menurut gw, sangat melelahkan.. mentally and physically..

“Sudah biasa kali, macet di kota sebesar Jakarta gini mah,” terdengar lagi suara dari belakang.

“Ah, lieur aing mah euy di Jakarta!” sundanese gw akhirnya keluar.

Sepertinya ia kasihan melihat muka gw yang sedikit.. bt mungkin. Benar juga kata dia.. Ya sudahlah, gw ambil positifnya aja. Yang penting kini kami bisa lebih leluasa melihat keindahan kota Jakarta tanpa terganggu sama yang namanya macet, batin gw dalam hati. Suara batin yang kemudian membawa gw ke perjalanan spiritual gw yang pertama..

*    *    *

Harapan gw untuk segera melihat keindahan itu ternyata dikabulkan begitu cepat. ‘Keindahan’ yang berupa batang-batang pohon yang telah habis ditebang. Catat: dibabat, bukan dipindahkan seperti yang selama ini dijanjikan dan ditulis di koran-koran. ‘Keindahan’ itu tepat di atas lahan yang kalau tidak salah merupakan area proyek ambisius Jakarta.. monorel.

Mata gw terpaku beberapa saat melihat pepohonan yang kini kira-kira tinggal setinggi betis itu. Gw perhatikan diameternya.. dan bisa gw pastikan kalo umur mereka jauh lebih tua dari ‘bang gubernur’ yang memerintahkan penebangan terhadap mereka. Ironis. Kalau benar itu terjadi karena imbas dari proyek tersebut, sungguh sangat ironis. Disaat segelintir manusia menginginkan ‘kemajuan’ dalam hal ‘peradaban’, ternyata sesuatu yang disebut dengan ‘kemajuan’ itu harus dicapai dengan cara mengorbankan ‘peradaban’ yang lain.

Tiba-tiba pikiran gw menerawang jauh. Gw menghela napas cukup panjang.. suka atau tidak suka, ya inilah dia.. potret wajah ibukota kita. Wajah yang terus mempercantik diri dengan alas bedak berupa beton tumbuk, maskara berupa limbah pabrik, perhiasan yang berupa papan-papan billboard berukuran besar yang bertebaran disepanjang jalan.. dan mungkin sedikit tindikan di daerah tertentu berupa kehidupan malam. Yah, inilah dia.. kota yang dengan kemolekannya, telah membuat banyak orang jatuh terlena.. Dan gw pun hanya bisa melakukan serendah-rendahnya iman gw.. yaitu berbuat dengan hati..

Lelah akan pergumulan dengan batin sendiri di ‘dunia idea’, gw pun berusaha kembali ke ‘dunia jasmani’. Radio yang sejak awal menemani perjalanan kami, kini sudah terasa mulai membosankan. Untungnya, sebuah CD dari grup musik yang bisa disebut beraliran apa ya? jazz yang sedikit dibalut dengan aroma pop mungkin, kebetulan gw temukan di dalam mobil. Tergolek tanpa daya disebelah rem tangan yang sedang dalam keadaan bebas.

“Maliq ya?,” kata gw.

“He-eh,” jawab teman disebelah gw yang sedang menyetir, sambil memasangkannya ke dalam tape.

Dan ‘perjalanan spiritual’ kami pun dimulai kembali..

Bersambung…

Advertisements

About senjakemarin

Seorang penikmat senja, imaji dan kata-kata.
This entry was posted in Roman. Bookmark the permalink.

One Response to Jazz, Monorel, Sudirman & Maliq n d’Essential… Part I

  1. chali says:

    lanjutin dong juragan ceritanya…hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s