Sebuah Cerita dari Kamar Sebelah

Waktu sudah mulai beranjak malam, ketika dan untuk pertama kalinya aku mendengar mereka saling bercerita. Sepotong cerita lebih tepatnya. Tentang kehidupan, balada anak-anak manusia, dengan embel ‘mahasiswa’ didepan nama mereka.

*          *          *

Pada mulanya yang kudengar hanya raungan gitar listrik dan cabikan bas dari satu band yang aku kenal betul permainannya, RATM[i]. Hingga akhirnya terucap si kata sakti. Aksi.

“Eh, ngomong-ngomong.. besok siang lo lo semua pada mau ikut aksi?”
“Aksi? Demo maksud lo?”
“He eh. Aksi, demo, demonstrasi.. sama aja men”
“Kepengen sih, cuma gak tau juga. Gw ada kuliah besok siang.”
“Kalo lo?”
“Pengen sih, pengen banget.. Cuma enggak boleh sama mamah. ‘Jangan ikut-ikutan kaya gitu’ katanya. Takut ada kenapa-kenapa.. ”
“Huuuu!!!”

Sejenak kututup bukuku. Ribut sekali mereka.
Kamar mereka dengan kamarku memang hanya dibatasi oleh dua lembar triplek. Dua lembar triplek yang hampir tak mungkin menyembunyikan segala suara bising dan riuh yang mereka timbulkan hampir setiap harinya. Tapi tak pernah mereka seribut ini.

Di kos-kosan ini memang tidak ada peraturan jam tenang. Yang ada hanya ‘batas ketenangan’. Masing-masing menenangkan dirinya sendiri, dan yang tidak bisa tenang akan coba ‘ditenangkan’ oleh penghuni kamar yang lain hingga tercapai ‘batas ketenangan’. Dan menurutku mereka belum melewati ‘batas ketenangan’ tersebut. Jadinya kudiamkan, bahkan tertarik jadinya ku mendengarkan.

“Trus, kamu sendiri gimana?”
“Ikut dong! Kita ini mahasiswa! Penyambung aspirasi rakyat! Agent of change! Aktor intelektual![ii] Kalau enggak sekarang, kapan lagi coba?”
“Mau aktor kek, mau agen.. aksi-kagak aksi juge same aje.. kagak didenger ama pemerentah. Tau gak lo..”

Mereka pun melanjutkan perdebatannya. Agak terdengar lebih mirip debat kusir memang, namun tak apalah, selama abang-abang kusir yang mereka perdebatkan juga tidak tersinggung namanya mereka catut.

Bicara tentang aksi, akupun teringat akan sesuatu.

‘Aksi mungkin tidak akan merubah keadaan, namun tanpa aksi tidak akan ada yang namanya perubahan.’

Jargon itu. Semboyan itu. Cukup sering aku mendengarnya dari teman-teman kampusku yang gemar ‘ber-aksi’. Yang saking gemarnya, kadang-kadang tega meninggalkan temannya presentasi sendirian di depan kelas. Dan cukup sering pula aku melihatnya menempel di dinding-dinding gang menuju kampus, disebelah poster ajakan rave party dan pensi dari anak-anak SMU. Jargon itu. Semboyan itu. Seperti sebuah jawaban akhir terhadap pertanyaan-pertanyaan apatis dari mereka-mereka yang juga apatis. Yang menganggap demonstrasi hanya menghabiskan uang dan tenaga tanpa hasil. Mending sekalian leyeh-leyeh, nyodok, atau nongkrong seharian di kantin. Lebih worth it, kalau kata anak-anak jaman sekarang bilang.

Asyik memang, mendengarkan obrolan-obrolan dari mereka-mereka yang pikirannya masih fresh. Seperti sedang memakai sebuah kaca mata hitam, semua hal terlihat begitu hitam putih di mata mereka. Kalau tidak benar, ya salah. Begitu juga sebaliknya.

I-dea-lis-me.
Sepertinya perlu enam tahun bagiku untuk mundur ke masa itu. Masa-masa dimana kuterima dengan bangga jaket almamaterku.

*          *          *

Kelamaan nguping, capek juga. Kuseruput secangkir kopi panas yang ada di atas tumpukan lembaran bahan skripsiku. Bergeletakan seperti serdadu yang kalah perang. Inilah sebuah tugas besar, tugas pamungkas dari seorang mahasiswa. Adakah tugas akhir lain selain menyelesaikan skripsi dari seorang mahasiswa tingkat (sangat) akhir? Aku rasa tidak ada, selain mencari pasangan untuk foto bersama saat wisuda nanti tentunya.

Kubiarkan cairan hitam pekat itu berputar sebentar didalam rongga mulutku. Sedikit pahit namun segar juga. Aku geser kursi ke sudut ruangan, menghadap jendela, disamping poster besar Che[iii] dan Marcos (yang tidak pernah lepas dari cangklongnya). Lalu akupun duduk disana, sambil menyundut sebatang rokok Dji Sam Soe, hingga tenggelam dalam kepulan asap pekatnya semenit kemudian. Kupersilahkan angin semilir masuk, hingga membelai dingin tengkuk dan leherku. Rokok. Kata orang, seorang perokok tidak akan pernah tua, karena mereka semua mati muda. Smokers never grow old, because they’re die young. Benar juga. Sempat terpikir olehku untuk mematikan dan membuangnya jauh-jauh keluar jendela.. Tapi sebentar, toh banyak juga orang-orang yang mati muda walau tidak merokok. Ini hanya masalah pilihan: merokok atau tidak. Kupilih yang pertama, dan tentu saja dengan segala konsekuensinya. Maka kulanjutkan menenggelamkan diri didalam kepulan asap pekat dan semilir angin yang kupersilahkan membelai dingin tengkuk dan leherku, sampai kudengar suara riuh redan kembali dari kamar sebelah.

*          *          *

“Eh, liat tuh di tivi”
“Apaan?”
“Ck,ck,ck..”
“Et dah! Apa kagak malu tu orang?!”
“Malu-maluin aja…”
“Gak tau apa ya, klo temen-temen mereka yang sekarang lagi demo di depan istana mungkin lagi saling timpuk sama aparat, bukan sama sesamanya?!”
“He eh, dasar nggak punya otak tu orang-orang!”

Segala sumpah serapah terdengar ditimpakan kepada sesuatu. Sesuatu yang entah apa. Penasaran, kunyalakan dan kucari darimana sumbernya. Kutemukan, dan kulihat seorang wartawati di televisi tuaku sedang melaporkan sesuatu.

“…kelompok mahasiswa, masing-masing dari universitas —– dan universitas —–, terlibat tawuran siang hari ini di Jalan —–. Entah siapa yang memulai atau memprovokasi, tiba-tiba saja sekitar pukul satu siang tadi, dua kelompok mahasiswa yang kampusnya masih saling berdekatan ini terlibat bentrok. Adapun konsentrasi massa dari kedua belah kelompok hingga saat ini masih terjadi. Mereka terlihat masih berjaga-jaga didepan kampusnya masing-masing dikarenakan adanya kekhawatiran akan adanya serangan susulan. Meski suasana pada malam hari ini relatif lebih kondusif bila dibandingkan kondisi siang tadi, jumlah aparat keamanan yang melakukan pengamanan terlihat tidak berkurang. Dari data yang kami peroleh, tidak ditemukan adanya korban jiwa dari peristiwa ini. Hanya saja puluhan mahasiswa dan masyarakat, yang terlibat atau kebetulan berada di lokasi bentrokan, harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka ringan seperti terkena lemparan batu, parang…”

Dilayar televisi itu kulihat segerombolan mahasiswa saling berhadap-hadapan dengan api kebencian yang berkobar begitu dahsyatnya. Api yang entah dari mana asalnya. Tak kurang dari sedetik, mereka kemudian saling melempar batu, umpatan, makian, menyabet parang, bahkan bom molotov[iv]. Kemarahan, kebencian, perselisihan. Mengapa kita harus saling membenci dan menyakiti bila menyayangi bisa lebih menyenangkan? Aku tidak tahu jawabannya. Dan akupun melanjutkan pekerjaanku sebelumnya.

*          *          *

Waktu sudah mulai beranjak malam, ketika untuk pertama kalinya aku mendengar mereka saling bercerita. Bercerita tentang kemarin, kini dan esok hari. Dan kini malam telah larut. Sangat larut. Namun mereka masih saling bercerita, tentang demonstrasi esok hari.
Dan aku masih mendengarkan.

Asrama Mahasiswa UI, Depok
Oktober 2005


CATATAN

[i] RATM atau Rage Against The Machine. Band beraliran rock asal Amerika yang hampir selalu memasukkan unsur-unsur sosial dan politik dalam setiap konser dan syair-syair lagunya. Pernah membakar bendera negara mereka sendiri, sesaat sebelum manggung di Woodstock pada tahun 1999 untuk memprotes pemerintahan yang mereka pandang membohongi rakyat.

[ii] Ungkapan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat, agen perubahan, dan aktor intelektual, dikenal luas sejak mereka berperan di garis terdepan dalam menjungkalkan Orde Baru. Namun sebenarnya, jauh sebelum itu mahasiswa telah lama membuktikan ungkapan-ungkapan tersebut.

[iii] Ernesto Guevara (1928-1967) atau lebih dikenal dengan nama Che Guevara. Seorang sarjana kedokteran, pencetus teori revolusi dan pemimpin perang gerilya. Sepertinya hampir tiada seorangpun, yang mengaku sebagai aktivis kampus, yang tidak mengenalnya.

[iv] Bom Molotov atau Molotov Cocktail. Jenis granat sederhana yang dibuat dengan cara mengisikan gas kedalam botol beling dan memasukkan kain lap hingga bagian lehernya. Digunakan dengan cara menyulut kain yang terjulur keluar, sesaat sebelum melemparkan botol ke arah sasaran.

Advertisements

About senjakemarin

Seorang penikmat senja, imaji dan kata-kata.
This entry was posted in Roman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s