Jazz, Monorel, Sudirman, Maliq n D’Essential… part II

Macet? Sudah lupa tuh. Sedikit plesetan dari jargon sebuah obat batuk itu sepertinya cocok dengan yang sedang kami rasakan. Ditemani hentakan beat-beat ringan dari Maliq, tanpa terasa tibalah di sebuah jalan yang diberi nama Sudirman. Entah oleh siapa, pastinya ia mungkin seorang pengagum Jenderal Besar yang bahkan ketika sakit pun masih tetap berjuang ini. Seperti namanya, secara harfiah jalan itu memang ‘besar’. Besar, karena kurang lebih enam buah jalur yang ada, relatif sangat lebar. Jalan inipun ‘besar’ dalam artian telah tumbuh menjadi salah satu kawasan elit yang ada di Jakarta. Bangunan-bangunannya yang kebanyakan berasal dari era megalitikum: tinggi dan besar, juga seperti mempertegas ‘kebesaran’ dari jalan ini.

Tiba-tiba dijalan itu sesuatu yang tidak biasa terjadi. Ajaib, lebih tepatnya lagi. Mungkin kata inilah yang paling tepat untuk menunjukkan kelebihan dari musik yang sedang kami dengarkan. Lahir di New Orleans, Amerika, sebagai bentuk ‘kemerdekaan’ dari keterbudakan, jazz tentu saja diisi oleh raungan akan kebebasan. ‘Kebebasan’ yang diwujudkan dalam wujud permainan yang tidak saling ‘menjajah’ satu sama lainnya. Dimana setiap personel memiliki ‘kemerdekaannya’ sendiri-sendiri untuk bebas berimprovisasi. ‘Kemerdekaan’ itupun ternyata sampai juga disini. Didalam mobil Jazz ini.

Keajaiban itu sebenarnya mulai muncul ketika track ke-4, “Blow My Mind” mulai menggema. Entah bagaimana, pembicaraan kami mulai ngalor-ngidul kemana-mana. Dari ipod-nya apple yang harganya jutaan, sampai Apple Mac G4 yang hampir semua desainer grafis kepingin… Dari mulai Miss Indonesia asal Fisip yang sempat berkenalan dan gw foto, sampai masalah lelaki… Dari…

Semua hal yang bersifat duniawai kami babat habis sepertinya disini. Keterbuaian kami ini pada akhirnya hampir saja membuat celaka. Sebuah bus Maya Sari Bhakti hampir kami ‘goda’. Alah, maksudnya kami tabrak. Untuk sesaat pikiran-pikiran tersebut kami repress ke alam bawah sadar. Namun hal ini tidak dapat bertahan lama ternyata.

*           *           *

Kamipun sampai di track ke-15. Sebuah untitled track. (Yang belakangan gw tau klo judulnya adalah ‘Ketika’, bukan ‘Lagunya Asoy’ seperti yg selama ini gw liat didalam playlist winamp gw –dan juga teman-teman gw di kampus). Bait pertama pun mengalun keluar..

“Ketika.. kurasakan sudah.. ada ruang di hatiku yang kau sentuh..

dan ketika.. kusadari sudah.. tak selalu indah cinta yang ada..

mungkin memang ku yang harus mengerti..

bila ku bukan yang ingin kau miliki..

salahku bila, kaulah yang ada di hatiku…”

(Entah apa karena lagunya yang memang begitu menohok atau karena pada dasarnya kami ini sekumpulan orang yang sensitif haha..’-_-) Untuk sesaat, aura yang kami rasakan sangat berbeda. Suasana di dalam mobil tiba-tiba berubah menjadi hening. Ya, sangat hening.. Secepat inikah mood kami berubah hanya karena sebuah lagu yang bahkan baru pertama kali kami dengar?

Kami semua terdiam.. terpaku didalam keheningan. Jalanan yang lengang, hawa dingin dari AC yang menusuk tulang, dan langit yang masih gelap seperti mempersilahkan lampu-lampu jalan untuk menghangatkan kami yang tengah didera kedinginan.. dalam keheningan malam. Bintang-bintang yang mengintip diatas sana pun juga seperti tak kuasa menandingi gemerlapnya cahaya yang datang dari kanan dan kiri jalan.

Kami semua seperti dibawa untuk mengingat kembali semua kenangan di masa lalu. Dari kenangan akan PSAU yang begitu menyenangkan, sampai bayangan akan rambut hitam panjang dari seorang wanita yang cukup menyakitkan. Gw bahkan sampai harus mengingatkan teman yang duduk di sebelah untuk tidak ‘terbuai’ lagi untuk yang kedua kalinya. Bisa bahaya (lagi).

Tidak terhitung telah berapa kali kami memutar bolak-balik lagu-lagu yang ada dalam CD-nya Maliq itu. Dan anehnya, kami masih saja ‘terbuai’ oleh lagu-lagu tersebut. Namun, dalam setiap pertemuan pastilah ada perpisahan. Dan akhir itu ternyata ada di Tanjung Barat.

*          *          *

Sorot lampu merah itu tiba-tiba menyilaukan mata kami yang kosong. Sedikit membangunkan kami dari ’tidur panjang’ yang sedang kami rasakan. Kami terkesiap. Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suara yang semakin lama semakin nyaring terdengar. Suara yang sepertinya bukan dari ‘alam’ yang sedang kami nikmati ketika itu -dan kata-katanya pun kami yakin bukan bagian dari lagu yang sedang kami dengar. Suara yang sepertinya pernah kami dengar dan kami kenal. Kami ‘kenal,’ karena begitu dekat dengan kehidupan kami sehari-hari. Kami bisa mendengar suara-suara itu di perempatan jalan, kereta api, halte bikun, bahkan di kantin fakultas kami. Suara yang.. ah, sebenarnya tidak mau kami dengar, tapi merupakan realitas yang harus kami hadapi dan kalau bisa.. tunggu, bukan kalau bisa, harus bisa kami ‘hilangkan’ dari soundtrack dunia ini..

Suara itu ternyata berasal dari balik kaca jendela. Keluar dari sepasang bibir yang sudah tampak mengering dari seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Berpakaian kumal, sambil sibuk menggendong seorang bayi di tangan kirinya dan sebuah gelas plastik di tangan kanannya. Ia tengadahkan tangan kanannya. Bibirnya masih mengeluarkan suara-suara tersebut, berharap kami memberi mereka sedikit ‘kesenangan fana’ yang telah kami rasakan sebelumnya. Dalam ‘keterbuaian’ kami. Sejenak kami terdiam.. berpandangan.. namun sekarang, dengan mata yang tanpa kekosongan..

Alhamdulillah..

Guys, selamat datang (kembali) di dunia fana (yang nyata)!

* FIN *

AAG, Asrama Mahasiswa UI 2005

Advertisements

About senjakemarin

Seorang penikmat senja, imaji dan kata-kata.
This entry was posted in Roman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s