Senjakala di Sebuah Kota

Sore yang tenang, di tengah-tengah deburan ombak yang berkejaran disana. Di tengah lautan yang dalam dan bergelombang, pada tepian kota..

Entah berapa tahun atau abad. Sang senja tak pernah datang terlambat. Selalu hadir dan tenggelam tanpa pernah terekam.. Merah mencekat.

Di kejauhan para nelayan berhenti sejenak. Seakan termangu dalam senja keemasan, dan malam seperti tak ingin segera datang.

Lalu kulihat sepasang baya di dinding kota. Asyik bercengkrama, terbalut riuhnya ombak dan selimut cahaya.. Dan cahaya yang semakin fana.

Tembok Berlin. Begitulah mereka menyebutnya. Entah darimana awalnya. Mungkin romantisme akan bersatunya dua anak manusia..

Dan senja pun semakin tenggelam, meninggalkan kenangan. Tapi toh anak-anak pantai nun jauh disana tetap bersenda gurau sesamanya, berkejaran.. berlarian tak tentu arah.

Karena ia akan selalu datang, tenggelam di tengah lautan yang dalam dan bergelombang.. bagi mereka yang selalu memiliki impian, juga harapan..

Di sebuah kota yang selalu bermandikan senja.

Sorong, 15 Mei 2011


Advertisements

About senjakemarin

Seorang penikmat senja, imaji dan kata-kata.
This entry was posted in Poem and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s